Connect with us

Di Padang Sabana Mausui: Berkuda Sambil Menikmati Eksotisme “Firdaus” dari Flores

Wisata

Di Padang Sabana Mausui: Berkuda Sambil Menikmati Eksotisme “Firdaus” dari Flores

Berkuda di Padang Sabana Mausui, Manggarai Timur, NTT (Foto: Dok. Pribadi)

Jika keberuntungan berpihak pada anda, maka di Padang Sabana Mausui, anda bisa  berkuda sambil menikmati eksotisme “Firdaus” dari  Flores ini – Mausui bukanlah nama yang asing di telinga saya. Nama itu mengusik benak sejak berapa bulan yang lalu. Rasa penasaran itu bermula dari tulisan Markus Makur pada Kompas.Com.

Derita penasaranku terobati. Pada waktunya saya bersua dengan Mausui di sela-sela tugasku di Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur. Setelah rangkaian tugas tuntas, sahabat sealamamater menghantar saya menjumpai Mausui sebelum raja siang kembali ke peraduannya.

Sebenarnya, Mausui berasal dari sebuah nama kampung yang berada di lembah perbukitan pesisir selatan Manggarai Timur. Kampung ini persisnya berada di celah bukit yang luas. Beberapa rumah penduduk masih terlihat dari bukit. Pohon lontar menjamur. Tumbuh subur di lembah ini. Karena itulah kehidupan masyarakat sangat bergantung pada arak atau tuak. Perlu diketahui, tingkat konsumsi arak atau tuak sangat tinggi di Flores, terutama pada acara ritual adat atau pesta.

Nama ini kemudian dipakai  untuk padang sabana yang sangat luas. Tempat ini menjadi area pengembalaan sapi, kerbau dan kuda. Tak heran, kita mudah menjumpai kuda, kerbau dan sapi yang merumput di sana.

Hewan-hewan ini dilepas tanpa seutas tali di leher. Hanya bermodalkan kode-kode tertentu sesuai kepemilikiannya. Hewan ternak ini sangat sulit tertukar.

Selain padang yang luas, Mausui memiliki pantai yang eksotik.  Meskipun didominasi batu, pantai ini memiliki bentangan pasir putih yang sangat lembut. Memang pantai ini unik. Tidak seperti pantai-pantai di pesisir selatan pulau Flores yang berpasir hitam legam.

Untuk menggapai Mausui dapat ditempuh dengan kendaraan motor roda dua atau mobil. Dari arah Ruteng, sebelum tikungan masuk Waelengga, anda belok kanan. Atau, dari arah Bajawa, diujung Waelengga, anda belok kiri. Lebih kurang 4-5 kilomoter sampai Mausui. Anda harus melewati kampung Waewole dan Lekolembo. Jalan sudah beraspal dengan permukaan sedikit kasar. Berapa ruas jalan sedikit rusak atau longsor. Anda tetap berhati-hati.

Pilihan berrekreasi di sini, duduk di padang yang luas dan memandang view di sekitarnya. Bisa pula menuruni tangga alam menuju bibir pantai. Lalu meregangkan otot kaki di atas pasir putih nan lembut. Pilihan kita bebas. Yang pasti bahwa dari Mausui kita dapat memandang gunung Inerie yang menjulang tinggi dan dihiasi tirai kabut, hamparan Laut Sawu nan membiru atau menunggu matahari terbenam di antara celah barisan pegunungan Komba.

Saat yang paling tepat mencumbui Mausui adalah sore hari. Selain hawanya semakin teduh, anda akan tersaji pemandangan sunset yang sangat indah. Sebelum matahari hilang dari balik Gunung Komba, ia akan meyapu padang dan memantulkan cahaya kuning keemasan. Dan, bila anda beruntung, anda akan menjumpai penggembala (pemilik) berkuda yang memantau hewan peliharaan yang dibiarkan bebas di padang sabana ini. Anda bisa berkenalan dengan sang penunggang lalu menunggangi kudanya melintas pandang rumput ini. Anda tidak perlu rogok kocek dalam-dalam, cukup Rp. 50.000 sebagai wujud tanda terima kasih kepada sang pemilik yang telah berbaik hati. Dari sisi pariwisata, bukankah cara ini menunjang ekonomi kreatif masyarakat dari sektor jasa?

Baca jugaMencumbui Mausui, Sang Perawan dari Flores Sebelum Fajar Terbenam

Saya kehabisan kata untuk melukiskan eksotisme dan pesona Mausui. Sensasi itu akan datang jika anda berada di tempat ini. Ya, di Mausui – Firdaus dari Manggarai Timur, Flores NTT.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Wisata

To Top