Connect with us

Makna Perubahan Terhadap Pilkada

perubahan

Politik

Makna Perubahan Terhadap Pilkada

PERUBAHAN mendasar dari suatu Negara adalah tergantung dari siapa yang memimimpin Negara tersebut, begitu pula dengan suatu daerah. Proses seleksi yang akan menjadi pemimpin kedepannya ditentukan oleh rakyat.

Esensi dari kepemimpinan pada dasarnya untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik atau suatu proses pemilihan kepala daerah yang terpilih kedepannya bisa membawa perubahan yang bisa di rasakan oleh masyarakat luas disegala sendi – sendi kehidupan. Oleh sebab itu, setiap calon kepala daerah selalu menjual isu tentang perubahan sebagai bahan kampanye dan propaganda yang cukup efektif untuk menarik dukungan masyarakat.

Pemilihan kepala daerah Nagekeo ( Pilkada ) boleh dikatakan masih lama yaitu di Juni 2018, tetapi para calon – calon kandidat yang akan memimpin daerah ini kedepannya telah bermunculan dan mulai mempersiapkan diri. Untuk saat ini, masa kepemimpinan Elias Djo dan Paul Nuwa Veto masih sedang berlangsung dengan penyelesaian program – program yang belum terealisasi demi tercapainya visi – misi sesuai janji pada kampanye politiknya.

Sebagai wujud pergantian elit, pilkada memberikan sejuta harapan tetapi tak semarak sebagai bahagian pesta demokrasi tingkat daerah yang asumsi awalnya akan kuat secara bottom-up. Pada pemilihan kepala daerah yang dilakukan lima tahun sekali atau yang sering kita katakan sebagai pesta demokrasi akan menentukan nasib kabupaten Nagekeo serta masyarakat lima tahun yang akan datang. Lahirnya pemimpin produk dari pilkada akan ditentukan melalui jalur demokrasi tersebut.

Tetapi pilkada ternyata tidak memiliki hubungan perolehan suara terbanyak terhadap pemimpin yang terpilih. Karena dalam realita yang ada aspek kualitas kemampuan termarjinalkan oleh faktor popularitas, Parpol pengusung dan kemampuan financial. Sehingga hal ini akan menjadi bias, karena masih sebatas untuk pemenuhan suara terbanyak semata, bukan untuk mencari pemimpin yang sebenar – benarnya.

Isu perubahan adalah suatu hal yang sering dikumandangkan dalam proses kampanye, tetapi ketika isu itu digulirkan oleh para calon kepala daerah sering hanya sebagai alat kampanye yang ujungnya berakhir dengan pembohongan publik. Karena kebanyakan dari isu tak didorong terhadap program kerja yang konkret, tetapi isu didorong agar memojokan serta lebih unggul dari calon yang lainnya.

Dalam konteks pilakada atau pendidikan politik yang sehat dan dinamis, seharusnya rakyat diberikan pembelajaran politik yang bisa memberikan pencerahan politik. Bukannya rakyat diajarkan suatu karakter yang pragmatis untuk memilih pemimpinnya hanya semata untuk menjadikan demokrasi ajang pendulangan uang sebanyak – banyaknya.

Rakyat harusnya diberikan informasi yang objektif dan rasional untuk menilai dan memilih mana calonnya yang benar – benar memiliki visi perubahan dan mana yang anti terhadap perubahan, sehingga proses politik tidak saling memecah belah antara calon dan pendukung yang satu dengan yang lainnya, tetapi menciptakan suasana politik yang sehat dan terbangun kultur politik yang berkeadaban.

Perubahan adalah dambaan semua insan dalam tatanan masyarakat, banyak hal yang di inginkan masyarakat terhadap pemimipin bangsa dan daerah ini terkhusus masyarakat Nagekeo. Pemenuhan kebutuhan ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya, kesehatan, keagamaan, dan lain sebagainya menjadi harapan masyarakat saat ini. Mereka menggantungkan nasibnya serta segenggam harapan mereka titipkan terhadap pemangku kebijakan untuk lima tahun kedepan.

Hal ini tidak terlepas dari Sumber Daya Alam (SDM) yang dimiliki kabupaten Nagekeo disegala sektor yaitu perikanan, pertanian, pariwisata, dan lain sebagainya. Melihat potensi yang dimiliki oleh Nagekeo, hal yang wajar jika masyarakat menginginkan suatu kesejahteraan.

Sumber Daya Alam yang dimiliki seharusnya seiring sejalan terhadap pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga potensi alam yang ada bisa dikelolah oleh anak daerah tanpa harus mendatangkan pekerja asing yang bisa mengancam para pekerja lokal.

Pemimpin kedepannya harus bisa memberikan perubahan dari semua aspek kehidupan dan mampu membawa daerah ini terkhusus kabupaten Nagekeo dan menjadikan pancasila sebagai dasar untuk melakukan pembangunan daerah yang berkeadilan untuk semua masyarakat, tidak menjadikan isu perubahan hanya selogan semata serta rakyat tidak dijadikan tumbal terhadap pesta demokrasi yang ada.

Di akhir tulisan ini, kami mengutip atau mengambil referensi dari Najwa Shihab yang mengatakan “ masyarakat coba dipikat dengan pencitraan palsu yang merakyat, kampanye berubah jadi unjuk harta dimana rakyat dikerdilkan sebatas suara, dan jika semua sibuk memburu kemenangan maka demokrasi tak lebih dari barang dagangan. (NS) “.

Olehnya itu jadilah pemimpin yang melaksanakan cita – cita Pancasila dan jadilah pemilih yang cerdas dalam menentukan pilihan politik untuk lima tahun kedepan.

Bagikan ke :

Continue Reading
You may also like...
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Menjadi Pemilih yang Cerdas dan Berkuwalitas - Nagekeo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Politik

To Top