Connect with us

Mengenal Lebih Dekat Dengan Marianus Sae

marianus sae

Tokoh

Mengenal Lebih Dekat Dengan Marianus Sae

Dari Menanam Pohon Menjadi Bupati dan kini di usung oleh PDIP dan PKB sebagai calon Gubernur NTT berpasangan dgn ibu Emi nomleni sebagai Cawagub NTT

MARIANUS SAE

Lahir: Bobajo, Kecamatan Golewa, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT),

8 Mei 1962

Istri: Maria Moi

Anak:

– Yulio Rikardo (24)

– Rosa Mistika (22)

– Roberto Carlos (18)

– Gorgonius (16)

– Angelo (14 )

Pendidikan: Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Kegururan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT, tak tamat

Pekerjaan: Bupati Ngada, NTT, periode 2010-2015

Kuliahnya sampai semester tujuh. Ijazah SMP pun diraih Marianus Sae setelah empat tahun tak sekolah karena keterbatasan dana. Ia juga pernah melakoni sejumlah pekerjaan, mulai dari bertani, joki kuda pacuan, melayani borongan truk angkutan pedesaan, buruh bata merah, buruh bengkel las, sampai menjadi transmigran di Kalimantan. Semua pengalaman itu menjadi bekal bagi Marianus, yang kini menjadi Bupati Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sejak tahun 2010 Marianus menjadi Bupati Ngada. Ia berpasangan dengan Paulus Soliwoa menjadi salah satu dari delapan paket calon yang maju dalam pilkada Ngada, 3 Juni 2010. Kemenangannya jauh dari hitungan politis, terutama karena Marianus hanya berijazah SMA. Ia juga bukan politisi. Ia hanya dikenal sebagai pelaku pariwisata di Bali. Ia tak populer di kalangan elite Bajawa, kota Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Namun, hasil pemilihan kepala daerah Ngada justru membuat Marianus menjadi bupati dalam satu putaran. Ia meraih suara pemilih sampai 48 persen. Jadilah pasangan Marianus-Paulus Soliwoa menggusur petahana Bupati Ngada, Piet Nuwa Wea, yang berpasangan dengan Benediktus Djawa pada urutan ketiga.

Marianus adalah bungsu dari dua bersaudara anak pasangan petani miskin, Yohanes Da’e dan Virmina Redo, yang tinggal di Bobajo, Kecamatan Golewa, Ngada. Sang ayah meninggal dunia tahun 1980, disusul ibunya pada tahun 1985. Ketika duduk di kelas IV SD Katolik, Bejo, Mengulewa, Marianus sempat berhenti sekolah karena tak ada dana.

Namun, sang paman, Eman Maghi, yang menjadi guru segera bertindak. Marianus dibawanya ke Bajawa agar bisa bersekolah di SD Katolik I Bajawa dan lulus tahun 1975. Sejak itu, ia menjadi anak asuh keluarga Eman Maghi, yang terus membiayai sekolahnya hingga kelas II SMP PGRI Bajawa.

Oleh karena sang paman harus berkuliah di Kupang, Marianus tak bisa melanjutkan sekolah. Tahun 1977 ia bekerja menjadi buruh serabutan, termasuk sebagai buruh perusahaan bata merah CV Galeta di Bajawa. Upahnya Rp 250 per hari.

“Dengan upah harian itu, ditambah sedikit tabungan hasil kerja serabutan selama empat tahun tidak bersekolah, saya bisa melanjutkan belajar di SMP sampai tamat tahun 1982,” cerita Marianus di Zeu, Kecamatan Golewa Barat , Ngada, awal Juni.

Di Zeu yang berjarak sekitar 40 kilometer utara Bajawa ini, ia punya kebun. Ia menyambangi kebunnya dengan mobil pribadi. “Saya harus konsisten dengan kebijakan mobil dinas hanya dimanfaatkan untuk kepentingan dinas,” ujar bupati yang mengaku menggunakan Toyota Kijang tahun 1995 sebagai mobil dinasnya.

Kuliah sambil bekerja

Meski tak ada dana pendidikan dari keluarga, semangat belajar Marianus tetap tinggi. Ini antara lain tampak dari tekadnya kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT.

Untuk membiayai kuliah, dia bekerja pada perusahaan asuransi di Kupang. Tahun 1988 dia memutuskan berhenti bekerja dan meninggalkan bangku kuliah. Dia tertarik bekerja sebagai pelaku pariwisata di Bali.

Pergilah Marianus ke Bali dan bekerja pada perusahaan kargo yang bergerak di bidang ekspor-impor. Tahun 1990 ia memutuskan mendirikan perusahaan kargo miliknya sendiri. Setelah merasa cukup mengumpulkan modal, ia kembali ke NTT. Sekitar tahun 2006, ia mendirikan PT Flores Timber Specialist dengan bidang usaha penanaman dan pengembangan berbagai jenis kayu bermutu.

Bersamaan dengan itu, ia juga gencar mendorong dan memotivasi masyarakat di pedesaan Ngada untuk menanam pohon jati emas, mahoni, dan beberapa jenis pohon lainnya. Dia menyebut tanaman berbagai jenis pohon itu sebagai investasi atau tabungan jangka panjang. Untuk itu, ia merogoh kocek guna mendatangkan berbagai benih pohon dari Jawa Barat.

Sejak tahun 2007, benih-benih pohon itu disemaikan di Zeu. Tempat persemaian ini menghasilkan sekitar dua juta anakan siap tanam per tahun. Dari hasil persemaian tahun pertama, Marianus menyisihkan sekitar 70.000 anakan untuk ditanam di lahan miliknya seluas 70 hektar di Zeu.

Sedangkan lebih dari 1,9 anakan hasil tahun pertama dan empat juta anakan, dari persemaian tahun kedua dan ketiga, dia bagikan untuk warga pedesaan Ngada.

Di kebun miliknya, pohon-pohon itu tumbuh subur. Sebagian pohon sudah bergaris tengah 20-25 sentimeter. Ia memperkirakan, dalam waktu 10 tahun ribuan pohon itu siap dipanen. Menurut dia, satu pohon bisa menghasilkan sekitar satu kubik kayu seharga lebih kurang Rp 16 juta-Rp 17 juta.

Selain menjadi tabungan jangka panjang bagi pemilik pohon, usaha ini pun memberi keuntungan ganda bagi daerah setempat. Sesuai ketentuan yang berlaku, pembeli kayu wajib menyetor Rp 25.000 per pohon untuk kas desa. Pedagang juga wajib membayar surat izin kayu olahan sebesar Rp 22.500 per kubik untuk pendapatan asli daerah.

“Itulah mengapa saya serius memotivasi warga Ngada menanam berbagai jenis pohon bermutu. Ini jelas bisa memberi keuntungan bagi warga, desa, juga pemerintah daerah. Pada saat yang sama, lingkungan hidup kita pun terselamatkan,” tuturnya.

Paket ternak

Selain memotivasi dan menyediakan benih pohon, Marianus juga membagikan sejumlah paket sapi dan babi untuk diternakkan warga setempat. Polanya, bagi hasil secara berimbang. Ini disebut Marianus sebagai program pemberdayaan ekonomi rakyat atau perak.

“Sekarang sapi hasil program perak jumlahnya sekitar 2.700 ekor. Jumlah itu termasuk 920 ekor punya saya sendiri,” kata Marianus, yang maju dalam pertarungan pilkada Ngada karena dipengaruhi sahabatnya.

Saat ditanya tentang kekuatannya sehingga bisa meraih suara terbanyak dalam Pilkada Ngada 2010, Marianus tak langsung memberi jawaban.

Dia hanya menduga ini merupakan “buah” dari dorongan dan motivasi yang diberikannya kepada masyarakat pedesaan selama ini, seperti memberi benih pohon gratis serta mengadakan paket sapi dan babi dengan pola hasil berimbang.

“Saya tidak punya pikiran macam-macam, cuma ingin masyarakat mau menanam pohon bermutu karena ini bisa meningkatkan kondisi ekonomi kita semua,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Marianus pada tahun-tahun sebelum dia menjadi bupati itu tanpa titipan pesan apa pun, apalagi terkait pilkada Ngada. Ini rupanya yang justru membuat dia mampu meraih suara terbanyak
Dan kini sang anak desa menuju NTT 1
#dari desa untuk NTT tercinta

Bagikan ke :

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Tokoh

To Top