Connect with us

PEDA KTNA 2017 di Nagekeo, Apa Pentingnya?

pekda-nagekeo1

Ekonomi

PEDA KTNA 2017 di Nagekeo, Apa Pentingnya?

pekda-nagekeo

Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (PEDA KTNA) ke-XV Tingkat Provinsi NTT 2017 di Nagekeo akan dibuka secara resmi oleh Gubernur NTT pada Rabu, 19 April 2017. Seremonial pembukaan sebagai “bumbu penyedap rasa” telah dipersiapkan panitia lokal yang secara teknis dipercayakan pada Dinas Pariwisata untuk mengemas seremonial tersebut. Mulai dengan parade budaya peserta PEDA KTNA dari 22 kabupaten / kota se NTT dan jamuan makan malam (gala dinner) ersama pada tanggal 18 April 2017 dengan utusan 5 orang per kabupaten/kota, sedangkan peserta lain akan disambut oleh warga RT dan Peguyuban (Gala Dinner) di tempat penginapan.

Baca : Nagekeo Siap Menjadi Tuan Rumah PEDA KTNA 2017

Puncak acara adalah pembukaan oleh Gubernur NTT pada 19 April 2017 yang dimeriahkan dengan pagelaran 1000 dero yang dibawakan siswa-siswi dari 20 sekolah dalam radius ibu kota Mbay dan parade ‘alsintan” (alat mesin pertanian) anek jenis dan ukuran, yang merupakan bantuan pemerintah baik pusat maupun daerah bersama barisan/parade para PPL dan Babinsa.

Itulah seremonialnya, yang sekali lagi, merupakan kemasan ‘bumbu penyedap rasa’ dari substansi pesan PEDA KTNA itu sendiri dengan sebuah ungkapan “DUNIA PERTANIAN AKAN MENJADI LEBIH INDAH BILA DUNIA PERTANIAN DIBUNGKUS OLEH DUNIA PARIWISATA”.

pekda-nagekeo3

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Wolfgang Lena, menjelaskan bahwa di samping seremonial penyambutan dan gebiyar acara pembukaan PEDA KTNA sebagaimana digambarkan di atas, terdapat hal substantif yang tidak boleh hilang redup di tengah kemeriahan seremonial pembukaannya.

Sesuai jadual yang ada, setelah upacara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai pertemuan (di antaranya temu wicara dengan Gubernur NTT hal kebijakan pembangunan pertanian di NTT); unjuk tangkas (lomba bongkar pasang handspayer, lomba memilih jenis kelamin anak ayam, lomba memilih jenis kelamin ikan karper, serta lomba mengupas membelah dan mencungkil kelapa); dan asah trampil cerdas tangkas.

Selanjuntya, pada tanggal 20 April 2017 nanti, para peserta PEDA KTNA akan melakukan kegiatan kunjungan lapangan (widyawisata) yang dibagi dalam dua group.

Grup pertama akan mengunjungi titik-titik lokasi budidaya dan teknologi pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan di wilayah Utara Nagekeo dalam radius dataran Mbay. Para peserta mula-mula akan diantar ke suatu titik di bukit Roe untuk bersama-sama memandang dari ketinggian sebuah hamparan potensi pertanian lahan basah seluas ± 6000 ha yang membentang sepanjang sisi kiri dan kanan Sungai Aesesa, DAS terbesar di Flores. Masing-masing peserta bisa menemukan sendiri keagungan Sang Illahi, Pemberi “Mbay-Paradise” bagi Flores – NTT untuk Nusantara.

Turun dari bukit Roe, pertama-tama peserta diantar ke Aeramo. Di situ para peserta akan diperkenalkan teknik pertanian organik, yakni teknik budidaya padi sawah tanpa menggunakan bahan kimia anorganik; (lalu tentantif ke lokasi vertical dryer, yakni teknologi pengeringan jagung 3 ton per jam serta Unit Provessing Benih (UPB) skala modern. Dari Aeramo, peserta diajak menuju ke Pelabuhan Marapokot dan mengikuti perkenalan sistem pertanian integrasi pola 234, yakni pola yang dalam areal 2 ha sawah, bisa 3 kali tanam padi-padi-jagung, sambil memelihara 4 ekor sapi hingga mampu meningkatkan pendapatan dan menjaga keseimbangan ekosistem yang ramah lingkungan. Dari integrasi tersebut akan dihasilkan pupuk organik berupa kompos dan bokasih, pestisida organik berupa bio urin dan kompor tanpa minyak tanah (Biogas).

Dari Marapokot, peserta diantar menuju Nila. Di sini, peserta akan diperkenalkan sistem Laboratorium Lapangan dengan teknologi irigasi pipa yang menghantar air ke tempat penanaman jagung. Di situ akan terbukti ungkapan ini : “Hari-hari tanam jagung, hari-hari panen jagung, dan hari-hari terima uang. Tanam jagung makan nasi”.

Saudara-saudari asal Bima NTB yang telah hari-hari mempraktekan sistem tersebut di tempat itu, akan diperdalam lagi sistemnya oleh peserta PEDA KTNA. Di tempat yang sama, para peserta akan diperlihatkan model Inseminasi Buatan (IB) yakni kawin suntik untuk memperbaiki mutu genetik sapi, dan juga Transfer Embrio (TE), yakni gertak birahi untuk memindahkan embrio sapi (dengan teknologi tinggi).

Bila jam makan telah tiba, para peserta akan menikmati santap siang bersama para petani Mbay II di Nila. Ditempat yang sama juga dilakukan demo panen padi menggunakan alat panen modern (combina harvesther) bantuan Kementrain Pertanian. Petani juga diajak untuk demo tanam padi menggunakan mesin rice translpanter di Mbay I.

pekda-nagekeo1

Menjelang senja, para peserta akan diantar ke Nggolonio. Di sana mereka akan menyaksikan dari dekat potensi ladang garam 1000 ha lebih dan industri garam Jodium. Sekembalinya dari Nggolonio, para peserta kiranya mendapat kesempatan menikmati “panorama senja perbukitan Sangabenga/Weworowet” dalam perjalanan pulang ke Mbay serta mengunjungi bendung Soetami dgn kapasitas air 7000 m3 per detik, sebelum akhirnya tiba dengan sejuta kenangan di tempat penginapan masing-masing.

Grup kedua akan menuju wilayah Selatan Nagekeo. Dari Mbay, peserta akan diantar langsung menuju lokasi Agroforestri BPP Rendu. Di sana akan diperkenalkan model integrasi tanaman pertanian hortikultura dan kehutanan untuk menjaga kelestarian ekosistem terutama pada lahan-lahan marginal, lahan-lahan dengan kemiringan lebih dari 40 derajad melalui sistem teras sering dan pergiliran tanaman.

Lokasi percontohan ini mendapat dukungan sumber air baku dari 3 embung kecil bagian hulu, dialirkan ke SMKN Jawakisa dan BPP Rendu, selanjutnya dengan sistem perpipaan mengaliri tanaman di sepanjang daerah teras sering lahan kering. “Dinas Pertanian tidak hebat di tempat yang tanahnya subur. Jagung dilempar ke tanah saja bisa tumbuh. Dikatakan hebat, bila kehadiran Dinas Pertanian bisa membuat jagung bertumbuh subur di daerah kering marginal seperti di sekitar BPP Rendu pada musim panas” (Silvester Teda Sada).

Dari BPP Rendu, para peserta akan diarahkan menuju SPP St. Isidorus Boawae yang sebelumnya mengunjungi usaha ayam pedaging pola kemitraan dengan jejeran kandang ayam di Kelurahan Olakile. Mengunjungi Kebun SPMA sebagai Laboratorium Lapangan Agribisnis Terpadu (LLAT), yakni tempat pembelajaran tranfer teknologi skala kecil untuk pengembangan pertanian agribisnis (tanaman pangan, hortikultura, toga, Hijauan Makanan Ternak /HMT, ternak sapi dan unggas); serta pengolahan limbah menjadi pupuk bokashi dan biogas, energi terbarukan yang berperan menggantikan kompor pemanas minyak tanah.

Juga pengolahan hasil pertanian dari bahan baku lokal menjadi aneka snack siap saji yang diberi nama Snack Jagung Nagekeo (SEJANA). Para peserta akan memasuki kebun SPP, melewati areal HMT (tanaman legum, cimpelang kiri dan kanan) yang tumbuh dibawah perkebunan kelapa hibrida, menuju kebun jagung dengan penyiraman springkel (sehingga ada jagung yang sudah tumbuh saat jagung tua masih ada/belum dipanen) serta irigasi springkel hortikultura dengan sumber air tanah dengan kedalaman 70 meter.

Akan ada demonstrasi lampu gas tanpa minyak tanah, menggunakan teknologi biogas. Selanjutnya menuju lokasi (kandang) penggemukan sapi pola kemitraan antara SPP dan PT Air Sumber Hidup Sejahtera (ASHS) dan pembuatan konsentrat pakan sapi serta pakan fermentasi yang berasal dari jerami padi, jagung, kacang-kacangan (sehingga penambahan berat badan sapi bisa mencapai 0,8 – 1,8 kg per hari). Dari kebun SPP, peserta akan menuju kampus SPP untuk menyaksikan pameran aneka olahan hasil pertanian pangan lokal dan Unit Pengolahan Hasil Pangan Lokal (UPHPL) serta pendidikan pertanian berbasis asrama berkarakter.

Selesai kunjungan di SPP, para peserta langsung menuju Kampung Sawu di Mauponggo. Selain menikmati makan siang di tempat ini, para peserta akan diberi kesaksian bahwa itulah kampung adat yang sumber kehidupan harian warganya berasal dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan kehutanan seperti cengkeh, kakao, pala, lada, kemiri dan kelapa. Selesai santap siang, para peserta kembali dan di Wolosambi di mana telah ada pameran sapi Mauponggo dan kendaraan-kendaraan expedisi yang siap mengantapulaukan pisang dan kelapa. Para peserta juga akan diajak mampir di kawasan perkebunan Lajawajo, tempat sumber benih bersertifikat Nasional untuk tanaman cengekh dan pala.

Selesai, para peserta kembali (menyinggahi kampung Boawae sebagai destinasi wisata budaya sambil menikmati kopi sore, tentatif); mampir di Politeknik St. Wilhelmus Boawae sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tinggi berbasis pertanian lahan kering di Flores. Dari sini peserta alumni SPP kembali ke SPP untuk temu alumni, sedangkan yang lain kembali ke Mbay melalui Aegela atau Jawakisa (tergantung situasi).

Dengan sehari penuh berada di lokasi titik kunjungan ini, para peserta yang adalah petani-nelayan NTT kiranya mendapat ‘pesan’ pertanian, pengetahuan dan wawasan baru mengenai sistem, pola, teknologi dan pendekatan budidaya pertanian lainnya dari bumi Nagekeo untuk dibawa pulang ke daerah masing-masing.

Itulah pentingnya PEDA KTNA ke-XV tingkat Provinsi NTT di Kabupaten Nagekeo. Selamat menikmati.

(Sekber PEDA Nagekeo)

Continue Reading
You may also like...

Anak Desa Lahir di Ratedao, Web Developer & Digital Marketing Enthusiast. WA 0812 9385 2864

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ekonomi

To Top