Connect with us

Sejarah Tour de Flores Sebagai Event Balap Sepeda Tahunan Dipulau Flores

sejarah tour de flores island

Wisata

Sejarah Tour de Flores Sebagai Event Balap Sepeda Tahunan Dipulau Flores

Sejarah Tour de Flores – Pulau Flores terletak dipropinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas mencapai 14.300 km². Kondisi alam yang banyak wilayah pegunungan tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para pebalap sepeda dari seluruh belahan dunia untuk mengikuti event balap sepeda tahunan bertajuk Tour de Flores – dimana para pebalap akan melewati kurang lebih 6 (enam) etape yang dimulai dari Larantuka (Flores Timur) dan finish di Labuan Bajo yang kini menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di NTT.

Hadirnya Tour de Flores berawal dari ide Robert Eppe Dando, pria asal Nangaroro, Kabupaten Nagekeo yang sebelumnya bersama Serry Babo Nuwa sukses memprakarsai ajang fun bike dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Nagekeo pada 8 Desember 2015 silam. Event bertajuk “OKI SATO Fun Bike: Road to TOUR de FLORES 2017” ini cukup sukses – sehingga memberanikan Robert untuk bertemu Primus Dorimulu dan menyampaikan idenya tentang Tour de Flores.

tour de flores 2016

Tour de Flores – Pebalap Sepeda

Pertemuan yang dilakukan pada bulan Agustus 2015 lalu mendapat respon positif dari Primus – kemudian mereka bersepakat untuk lebih meningkatkan intensitas komunikasi agar Tour de Flores bisa segera diwujudkan sebagai salah satu bentuk promosi untuk lebih memperkenalkan pulau Flores dimata dunia.

Primus yang bekerja sebagai pemimpin redaksi disejumlah media terkemuka di Jakarta, seperti Suara Pembaruan, Investor Daily, Investor Magazine, serta BeritaSatu.com menjadi tokoh sentral terwujudnya Tour de Flores 2016 sebab ia memiliki kemampuan lobi serta kedekatannya dengan Rizal Ramli yang kala itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia.

Menurut Robert seperti dilansir dalam akun kompasiananya bahwa setelah Primus menyampaikan perihal Tour de Flores kepada Rizal Ramli – maka beberapa hari kemudian mantan Menteri Keuangan diera Gus Dur ini menerima Primus, Robert, Yustinus dan beberapa orang lainnya di Widya Candra yang merupakan kediamannya untuk membahas mengenai ajang balap sepeda tahunan ini – bahkan disana telah hadir pula beberapa orang dari PB ISSI (Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia). Pada pertemuan ini, Rizal langsung menyetujui Tour de Flores serta menandatangani surat disposisi yang ditujukan kepada Menteri Pariwisata yang kala itu dijabat oleh Arief Yahya.

“Mari kita toast dengan air kata-kata, demi Tour de Flores,” Rizal mengawali jamuan bagi para tamu dirumah jabatannya. Air kata-kata sendiri merupakan istilah yang populer di NTT dan Rizal mengetahuinya dari beberapa sahabatnya yang berasal dari Flores.

Istilah tersebut merujuk pada moke atau arak atau sopi yang merupakan minuman tradisional di Nusa Tenggara Timur sedangkan air kata-kata yang dimaksudkan Rizal adalah anggur karena malam itu beliau menyuguhkan tamunya beberapa botol wine terbaik dari luar negeri.

Arief Yahya selaku Menteri Pariwisata kemudian mulai mendalami perihal Tour de Flores dan menurutnya bahwa hadirnya ajang balap sepeda tahunan dipulau bunga (sebutan untuk pulau Flores) akan memberikan dampak yang baik terhadap pertumbuhan pariwisata diwilayah ini – apalagi TdF sendiri kemudian disetujui oleh gubernur Frans Lebu Raya serta para Bupati sedaratan Flores.

Tour de Flores Menjadi Agenda Pariwisata Tahunan

Suksesnya putaran 1 (pertama) Tour de Flores yang digelar pada 18 – 23 Mei 2016 lalu dengan jarak tempuh 661.5 km yang terbagi dalam 5 (lima) etape – diawali dari Larantuka di Flores Timur hingga Labuan Bajo di Manggarai Barat telah menjadi bahan pertimbangan Kementerian Pariwisata – hingga pada akhirnya Tour de Flores ditetapkan menjadi agenda pariwisata tahunan yang akan digelar secara berkala dipulau Flores.

Selain balap sepeda ada juga event pariwisata lainnya yakni kunjungan ke danau Kelimutu yang selama ini menjadi destinasi wisata di Kabupaten Ende, kunjungan ke Labuan Bajo dan juga Pink Beach.

Kini Tour de Flores bukan lagi milik Robert, Yustinus, Primus dan para penggagas lahirnya Tour de Flores lainnya namun telah menjadi milik kita masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya dan masyarakat Flores khususnya.

Sudah sepatutnya kita memberikan apresiasi bagi mereka yang telah bekerja keras hingga ajang balap sepeda bertajuk Tour de Flores diadakan ditanah kelahiran kita yang akan didatangi oleh wisatawan serta pebalap sepeda dari seluruh dunia.

Baca : Berpartisipasi Dalam Tour de Flores, PEMDA Nagekeo Diharapkan Kembangkan Industri Pariwisata Dan Pemasarannya

Mempromosikan pariwisata tentu saja membutuhkan berbagai macam inovasi – dimana salah satunya adalah melalui Tour de Flores yang hadir dengan tag-line Explore the Wonderful Land. Pulau Flores telah memiliki sejarah baru dengan hadirnya Tour de Flores yang akan dilaksanakan setiap tahun.

Anak Desa Lahir di Ratedao, Web Developer & Digital Marketing Enthusiast. WA 0812 9385 2864

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Tim Masa Depan itu Bernama Persena Nagekeo - Nagekeo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Wisata

To Top