Connect with us

Tour de Flores: Butuh Kesepahaman, Bukan Perdebatan

Wisata

Tour de Flores: Butuh Kesepahaman, Bukan Perdebatan

Oleh: Giorgio Babo Moggi *)

 

Tour de Flores: Butuh Kesepahaman, Bukan Perdebatan – Seorang turis asing di ruang check in bandara El Tari Kupang (Rabu, 21/6/2017) menarik perhatian. Ia duduk di lantai, persis di samping pintu keluar. Sebuah koper berukuran besar dan tas ransel tergelak di depannya.

Kemudian ia mengeluarkan botol plastik berukuran kecil dari dalam koper. Menuangkan isinya lalu ia mengoles pada kedua lengan tangannya. Saya menduga koper besar itu berisi pakaian. Tapi dugaan itu tidak seratus persen benar. Karena kesaksian saya para turis asing pada umumnya jarang membawa pakaian dalam jumlah yang banyak apalagi sampai berkoper-koper.

Dugaanku meleset. Pria itu mengeluarkan helmet sepeda dari tas ranselnya. Koper besar tersebut berisikan sepeda lipat. Saya menyebutnya sepeda lipat karena bisa dicopot roda dan komponen lainnya. Sewaktu-waktu pemilik dapat merangkaikannya kembali.

Pria ini tidak saja menjadi perhatian saya. Ternyata ia menjadi perhatian kraeng Aldi Tjakung, seorang penumpang yang saya baru kenal di bandara. Kami sama-sama akan mengikuti penerbangan ke Soa dengan Wings Air. Ia kemudian mengaitkan bule ini dengan penyelenggaraan Tour de Flores (TdF) 2017.

Dampak Tour de Flores

Saya pun langsung mengorek informasi tentang dampak TdF 2016 terhadap pariwisata Flores. Tanpa memberi data dan statistik, kraeng Aldi membeberkan dampak positif TdF 2016. Pasca TdF 2016, jumlah wisatawan asing meningkat. Tidak saja wisatawan asing, wisatawan domestik pun meningkat siginifikan.

Meningkatnya angka kunjungan wisatawan ke Flores tak terlepas dari popularitas obyek wisata Flores yang kian mendunia. Ia menyebutkan beberapa obyek wisata yang kian populer seperti Wae Rebo dan Kampung Bena. Soal Komodo dan Danau Kelimutu telah lama menjadi obyek wisata primadona Flores dan satu-satunya yang unik dan ada di bumi ini, ya hanya di Flores.

Penjelasan pria paruh baya ini cukup masuk akal meski tanpa data dan fakta statistik. Setidak-tidaknya ia menyimpulkan realitas dari arus kunjungan wisatawan ke Flores yang dilihat dengan mata kepalanya.

Testimoni kraeng Aldi mungkin bertolak belakang dengan sejumlah tokoh, pemimpin, pengamat dan elemen masyarakat yang menolak TdF secara halus karena TdF dinilai tidak berdampak yang sangat signifikan terhadap pembangunan.

Baca jugaMencumbui Mausui, Sang Perawan dari Flores Sebelum Fajar Terbenam

Sama seperti kraeng Aldi Tjakung, kelompok yang mengemukakan TdF 2016 tidak memiliki dampak positif terhadap pembangunan tidak berdasarkan data dan statistik yang akurat. Semuanya menduga-duga berdasarkan asumsi dan opini tanpa data. Sangkalan TdF tidak berdampak kurang beralasan karena tidak diperkuat data dan fakta yang diperolah dari research lapangan.

Alangkah baik, cerdas dan gentlemen jika kelompok penentang TdF harus mematahkan argumen kelompok pro TdF dengan data dan fakta akurat. Sehingga mereka tidak disebut kelompok cendekia-elitis yang tidak terkesan asbun (asal bunyi) alias omdo (omong doang). Mencari ruang popularitas dengan menjadikan diri sebagai pembeda.

Pendidikan Berorientasi Kreativitas

Kita patut akui bahwa perdebatan tentang dampak TdF 2016 tidak akan berakhir tanpa pengkajian yang dalam. Kita tidak sekedar berpendapat atau berargumen tanpa sokongan data yang akurat dan akuntabel. Terlepas dari pro-kontro TdF, lebih lanjut kraeng Aldi menekankan kesuksesan TdF sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah melalui sektor pendidikan harus memikirkan konsep pendidikan yang berorientasi kreativitas (creativity). Ia menyayangkan kurikulum pendidikan yang mengabaikan kreativitas siswa. Kepada saya, ia bernostalgia dengan pendidikan model dulu yang mana siswa diajarkan seni memahat, seni mengukir, seni mematung dan sebagainya.

Kreativitas merupakan modal bagi masyarakat untuk menghidupi dirinya secara ekonomi. Ia memberi contoh sekaligus apresiasi kepada para penjual bakso keliling asal Jawa di Flores. Mereka bukannya orang tidak berpendidikan. Di antara mereka pasti ada yang berijazah sarjana. Mereka kreatif dan mampu menangkap peluang.

Sejatinya demikian, keberadaan TdF adalah peluang bagi masyarakat Flores untuk meningkatkan kehidupan ekonominya. Untuk mewujudkan mimpi ini, masyarakat perlu dorongan dari pemerintah. Dorongan itu melalui pendidikan, yakni membuka lembaga pendidikan dengan jurusan dan kurikulum muatan lokal yang berorientasi pariwisata dengan meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dalam pelbagai bentuk ketrampilan tangan. Karena produk kerajinan tangan merupakan salah satu daya tarik wisata. Singkatnya mendorong siswa untuk kreatif dalam merespon peluang yang ada depan mata mereka.

Menyapa dengan Senyuman

Tentu tidak kalah pentingya, kraeng Aldi menandaskan senyum merupakan salah satu kunci dunia pariwisata. Wisatawan memerlukan sesuatu yang sangat mudah dilakukan tapi mahal nilanya, yakni senyum yang ramah.

Dengan senyuman yang ramah saja mereka merasa nyaman berada di wilayah kita. Tampaknya hal sangat sederhana, tetapi senyum sangat berarti. Kraeng Aldi langsung memberikan contoh perkenalan kami yang bermula dari senyuman.

“Kalau saya tidak senyum dengan pak Gories (penulis, red) tidak mungkin obrolan kita seakrab ini.“

Evaluasi Tour de Flores yang Komprenhensif

Pernyataan kraeng Aldy dapat mewakili sejumlah masyarakat Flores yang secara sadar mengakui akan dampak dari pelaksanaan TdF pada tahun 2016. Artinya dampak itu ada – tidak soal berapa signifikan itu impact terhadap kemajuan Flores. Dan, soal tingkat signifikansi itu perlu ditelaah dan dicari langkah strategis sehingga TdF dapat memberikan benefit yang lebih maksimal terhadap pembangunan pariwisata Flores pada khususnya dan pembangunan semua sektor pada umumnya.

Evaluasi terhadap pelaksanaan TdF mutlak dilakukan jauh sebelum TdF 2017 dilaksanakan atau pasca perhelatan TdF 2016. Namun, kenyataan sepertinya kita tidur lelap dan kemudian terbangun pada saat pelaksanaan TdF 2017 sudah di depan mata. Kita tidak tanggung-tanggung mengkritisi bahkan langsung menyimpulkan TdF tidak berdampak apapun terhadap kemajuan Flores.

Baca jugaDampak Mengejutkan Kedatangan Rossi ke Flores

Sekecil apapun event pasti memiliki dampak positif sekalipun kecil dampaknya, apalagi event sebesar TdF pasti memiliki dampak yang lebih luas. Pertanyaannya, apakah kita peka terhadap perubahan di sekitar kita?

Kita butuh jawaban yang bersumber dari hati nurani yang jujur. Berpikir obyektif tanpa muatan politis. Nalar berpikir yang sehat. Tidak saling melemahkan satu sama lain, tapi sehati dan sesuara menggemakan Flores ke panggung dunia melalui event tahunan yang berskala internasional ini.

Kita tidak sedang mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam perdebatan pro-kontra TdF, kita mencari kesepahaman bahwa keberadaan TdF adalah mutlak untuk mempromosikan atau sebagai media marketing pariwisata Flores kepada dunia. Selama pemahaman kita tentang TdF berbeda-beda, sampai TdF keberapa pun kita akan tetap berada dalam pusaran perdebatan atau polemik. Toh, kita yang itu-itu pula yang berdebat. Terus, kapan majunya Flores tercinta ini?

Tour de Flores : Butuh Kesepakatan!

Kita harus sepakat bahwa Tour de Flores adalah sebuah keharusan. Karena berbicara pariwisata tidak saja berbicara tentang alam. Pariwisata tidak lepas dari berbagai event yang diciptakan. Wisatawan butuh hiburan, tidak saja melihat alam. Karena berbagai eventlah yang mampu membuat wisatawan bertahan. Semakin lama bertahan, semakin besar pengeluaran mereka. Tentu saja berdampak pada pendapatan masyarakat setempat. Kiranya TdF menjadi trigger pariwisata di Flores, yang menarik daya tarik wisatawan mengunjungi Flores bertepatan dengan event tersebut. Soal ketergantungan TdF pada ABPB, manajemen belum maksimal dan sebagainya, di situlah kita perlu evaluasi untuk perbaikan pelaksanaan TdF ke depan. Masa kita mau berdebat terus? Tentu tidak, khan?!

*) Penulis lepas, untuk mengakses tulisannya dapat klik di sini .

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Wisata

To Top