Connect with us

Tour de Flores : Kala Bupati Marianus Sae Memilih Jalan yang Tidak Populer yang Mempopulerkan

Wisata

Tour de Flores : Kala Bupati Marianus Sae Memilih Jalan yang Tidak Populer yang Mempopulerkan

Bupati Ngada, Marianus Sae (Foto: Primus Dorimulu)

Tour de Flores : Kala Bupati Marianus Sae Memilih Jalan yang Tidak Populer yang Mempopulerkan Dirinya – Ketiadaan dana untuk menjadi alasan Bupati Ngada, Marianus Sae, menolak Tour de Flores 2017 dengan tidak mengganggarakan pada ABPD. Keputusan ini dinilai sebagai keputusan yang fenomenal dan menjadi pembeda di antara kepala daerah sederatan Flores dan Gubernur NTT sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat yang mendukung penyelenggaraan Tour de Flores.

Alasan Bupati Marianus memang sangat rasional. Tapi menilik kemampuan keuangan daerah, semua kabupaten sedaratan Flores tidak ada kabupaten yang kaya atapun kaya sekali. Semua kabupaten termasuk Ngada masih bergantung pada aliran atau kucuran dana dari pusat. Sejatinya, keluhan Bupati Marianus sebagaiamana yang dilansir sejumlah media menjadi keluhan seluruh bupati sedaratan Flores. Namun, itu tidak terjadi.

Baca: Dampak Mengejutkan Kedatangan Rossi ke Flores

Sikap Bupati Ngada sama persis pada saat perhelatan Tour de Flores 2016, meskipun pada waktu itu dengan kondisi terpaksa ia harus menjamu peserta Tour de Flores semampunya. Karena Bajawa telah ditetapkan dalam titik etape balapan sepeda bertaraf internasional ini.

Sikap Bupati Marianus pada tahun ini bertolak belakang dengan kedua kepala daerah dari dua kabupaten tetangga  yang tidak menjadi tuan rumah Tour de Flores, yakni Manggarai Timur dan Nagekeo pada Tour de Flores 2016. Pada tahun tersebut ibukota kabupaten tersebut hanya menjadi tempat numpang lewat saja. Tapi, pada tahun ini mereka sangat getol dan mengalokasikan dana untuk mensukseskan event ini.

Sebagai penentu arah kebijakan daerah kita akuti bahwa bupati adalah figur yang sangat menentukan skala prioritas pembangunan daerahnya. Tetapi keputusan itu tidak akan terjadi jika tidak didukung oleh analisis dan perencanaan yang baik dari Organsasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi perencanaan – dalam hal ini Bappeda.  Sebelum kita memutuskan Tour de Flores adalah ajang hura-hura, apakah kita sudah melakukan analisis lebih mendalam Tour de Flores itu sendiri sehingga merujuk pada kesimpulan tersebut.

Sikap tegas Marianus Sae pantas dipuji dan dikagumi. Dinilai sebagai pemimpin yang mampu mengelola keuangan daerah dengan baik. Mampu menetapkan skala prioritas pembangunan daerah. Itu patut diapresiasi.

Pembangunan infrastruktur jalan raya di Ngada merupakan bukti nyata kerja Marianus Sae. Jalan-jalan di-hotmix. Daerah yang isolasi dibuka aksesnya. Membuka jalan baru yang memungkinkan akses ke Bajawa dari beberapa penjuru mata angin. Itu salah satu prestasi dan masih banyak prestasi lainnya.

Di sisi lain, saya menilai lemahnya pemahaman Marianus Sae dalam kontes pembangunan Flores yang komprehensif – menyeluruh. Membangun Flores ya membangun sinergitas progam atau kegiatan dengan kabupaten lain – terutama kabupaten tetangga. Sinergitas itu dapat dibangun jika ada kesepahaman dan kerjasama yang baik.

Baca: Pesona Padang Sabana Mausui nan Eksotis di Manggarai Timur

Pembangunan bukan soal ikut ramai atau hura-hura sebagaimana tuduhan pihak yang menolak Tour de Flores melalui media sosial. Perlu juga kita melihat hierarki sistim pemerintahan. Bukan karena otonomi daerah lantas bupati (kabupaten)  menjadi asing dan tidak mau tahu dengan hirarkir sistim yang di atas. Hal ini terkait dengan kepatuhan dan sinergitas program pemerintahan, pemerintah daerah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat (kementerian/badan).

Tour de Flores tidak mungkin dapat diluncurkan jika tidak mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Pemerintah pusat menyadari keberadaan Tour de Flores  menjadi pemicu percepatan pembanguan kepariwisataan di Nusa Tenggara Timur. Hal ini sejalan dengan kebijakan Jokowi yang menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.

Partisipasi kabupaten lain, dalam hal ini, kepala daerah, bukan bermaksud untuk melakukan korupsi berjemaah, tapi mereka sadar pembangunan memerlukan kebersamaan dan kesepahaman. Ini menjadi modal jika pariwisata menjadi leading sector pembangunan di Flores. Bicara pariwisata tidak lagi dalam konteks Ngada atau Nagekeo tapi dalam konteks Flores yang lebih luas.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Bupati Ngada atas capaiannya selama memimpin Ngada, sikap menolaknya Tour de Flores merupakan sikap yang ambigu. Kenapa? Karena pada Tour de Flores 2016, ia mengaku Tour de Flores tidak masuk dalam perencanaan (dalam RPJMD). Halnya yang sama yang sebenarnya dialami oleh kabupaten lain karena tidak direncanakan pada tahun sebelumnya. Karena adanya celah perubahan anggaran, pemerintah kabupaten/provinsi dapat merevisinya. Giliran masuk Tour de Flores 2017 yang hendak dilaksanakan, alasan ketiadaan dana dan masih banyak urusan untuk kemaslatan orang banyak. Entah apa alasan lagi pada Tour de Flores 2018?

Baca: Kisah Biarawati dari Flores yang Mengharukan

Ya, apa boleh buat. Apapun keputusannya, Tour de Flores tetap dilaksanakan. Bupati Marianus Sae telah mengambil jalan tidak populer yang mempopulerkan dirinya. Tapi kita tetap konsisten membangun pariwisata Flores daripada mengalah dan menyerah pada satu atau sekelompok orang yang menolak Tour de Flores. Tidak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Wisata

To Top